........Selamat Hari Jadi Kab. Nunukan ke 13 tgl 12 Oktober 2012.......

Kamis, 10 Mei 2012

PASCA PANEN PISANG RAKYAT

PASCA PANEN PISANG RAKYAT




Yang dimaksud sebagai pisang rakyat adalah komoditas pisang yang dihasilkan dari kebun rakyat. Sebutan ini untuk membedakannya dengan pisang hasil budidaya perkebunan besar. Jenis yang paling banyak dibudidayakan oleh rakyat adalah ambon kuning, ambon lumut, kepok kuning, raja bulu, raja sereh, tanduk, mas dan muli. Sementara yang dibudidayakan oleh perkebunan besar adalah pisang cavendish. Pisang barangan, sebenarnya juga dibudidayakan oleh rakyat, terutama di kawasan Sumatera Utara. Namun pola pasca panen dan pemasarannya  sangat spesifik, berbeda dengan pisang rakyat lainnya.

Dari delapan pisang rakyat tersebut, yang paling banyak dibudidayakan adalah ambon kuning, raja bulu, mas dan tanduk. Raja sereh, meskipun disukai konsumen, sangat sedikit dibudidayakan. Hingga suplai ke pasar juga kurang. Karenanya, di kios oleh-oleh di Klakah (Lumajang, Jatim), Pingit (Temanggung, Jateng) dan Puncak (Bogor, Jabar), yang paling dominan hanya pisang ambon kuning, raja bulu, mas dan tanduk. Bahkan, yang sudah dipastikan ada hanyalah ambon kuning dan tanduk. Sementara raja bulu dan mas kadang-kadang kosong.

Sebagai pisang rakyat, ambon kuning dan tanduk berasal dari tanaman yang tumbuh satu dua rumpun di halaman rumah, ladang dan kebun. Budidaya monokultur hampir tidak ada. Kecuali di bekas tebangan di lahan milik Perum Perhutani dan PTPN, kadang-kadang masyarakat menanam pisang secara monokultur. Pisang yang berasal dari kebun rakyat ini, biasanya dipanen mentah. Kecuali di Jawa Tengah, khususnya di sekitar Semarang. Di kawasan ini, pisang apa pun selalu dipanen masak pohon. Termasuk pisang tanduk. Selanjutnya, pisang yang baru masak satu atau dua buah di sisir paling atas itu, langsung dipasarkan dalam keadaan utuh berupa tandan.

Selain di Jawa Tengah, pisang dipanen mentah dengan cara tandanan. Jarang sekali dilakukan penyisiran. Pisang tandanan ini akan diangkut dengan truk atau pickup. Di Jawa, umumnya pisang diangkut dengan pickup karena volume penennya yang terbatas. Sementara pisang dari Lampung atau Sumatera yang dipasarkan ke Jawa, selalu diangkut dengan truk kapasitas 5 ton, namun dijejali muatan sampai 7 ton. Caranya, tandan pisang ditumpuk dengan ditidurkan. Akibatnya banyak tandan yang rusak. Pisang kepok dari Kalimantan Timur, malahan dibawa ke Jawa dengan truk tronton kapasitas 10 ton sekali angkut.

Pisang yang masih berupa tandan ini, sesampai di penampung akan diperam sebelum dipasarkan. Ada dua perlakuan sebelum pisang diperam. Pertama dilakukan penyisiran, kedua tetap dibiarkan utuh berupa tandan. Proses pemeramannya dengan asap, karbit atau gas etilen. Masing-masing punya kelebihan sendiri-sendiri. Penyisiran sebelum pemeraman memiliki keuntungan karena transportasinya lebih murah. Bobot tangkai tandan pisang bisa sampai 20% dari total bobot tandan. Kalau truk dari Lampung yang masuk Jakarta mengangkut 7 ton pisang tandanan, maka  yang 1,4 ton adalah tangkai tandan.

Kalau penyisiran dilakukan di kebun, maka tangkai tandan pisang itu bisa dikembalikan ke lahan sebagai pupuk organik. Di lain pihak ada penghematan ongkos angkut. Dengan biaya angkut Rp 100,- per kg. maka dari tiap rit dengan bobot 7 ton, ada penghematan biaya Rp 140.000,- Kalau dalam keadaan normal tiap harinya ada sekitar 100 truk pisang dari Lampung ke Jakarta, maka penghematan yang bisa didapat mencapai Rp 14.000.000,- per hari atau Rp 420.000.000,- per bulan. Belum lagi penghematan yang bisa diperoleh dari upah menyisir yang lebih murah di Lampung daripada di Jakarta.

Pasca panen pisang modern maupun tradisional, memang sama-sama menggunakan pola penyisiran. Dalam pasca panen modern, pisang harus segera disisir begitu dipanen. Sisiran pisang dimasukkan ke dalam bak berisi air yang mengalir untuk menghilangkan getahnya. Selanjutnya sisiran digrade, disortir, dikeringkan lalu dikemas plastik vacum dan dimasukkan ke dalam kardus. Pisang mentah yang telah dikemas ini, kemudian dimasukkan ke dalam cold storage dan dikirim dengan kapal laut ke negara importir. Dengan kemasan vacum dan suhu 14° C, pisang mentah ini bisa bertahan tetap segar sampai jangka waktu satu bulan.

Di negara konsumen, pisang ini tetap disimpan dalam cold storage. Pemasakan (pemeraman) dilakukan secara bertahap sesuai daya serap pasar. Untuk memasakkannya, kardus dan plastik kemasan dibuka, lalu ditaruh dalam rak pemeraman. Rak ini berada dalam ruang bersuhu antara 20 sd. 22° C. Ke dalam ruang pemeraman ini dialirkan gas etilen. Dalam jangka waktu 24 jam, seluruh pisang akan masak dengan ditandai warna kulitnya yang kuning cerah. Biasanya, yang diperlakukan demikian hanyalah pisang cavendish serta golden fingger (lady finger). Namun perlakuan demikian sebenarnya bisa diterapkan untuk semua jenis pisang. 

Secara tradisional (untuk dikonsumsi sendiri), masyarakat memeram pisang dengan terlebih dahulu disisir, dijemur lalu dimasukkan ke dalam lubang dengan lapisan daun lamtoro atau albisia yang telah dilayukan. Kemudian lubang ditutup tanah. Dalam jangka waktu tiga hari seluruh pisang yang diperam akan masak. Namun cara demikian tidak mungkin dilakukan secara massal. Para pemeram pisang di kawasan Ciawi, Cibedug dan Cijeruk, kab. Bogor, membuat lubang permanen (ruang bawah tanah) yang dukuatkan dengan batako. Bagian atas lubang dicor dengan semen. Ruang bawah tanah ini hanya diberi lubang ukuran 60 X 60 cm. yang bisa dibuka dan ditutup.

Melalui lubang inilah tandan pisang utuh dimasukkan dan ditata. Setelah ruang bawah tanah itu penuh tandan pisang, pintu lubang ditutup. Melalui lubang kecil yang diberi pipa besi dimasukkan asap. Caranya, sabut  atau daun kelapa kering ditaruh pada ujung lubang lalu dibakar dan dikipas-kipas. Asap akan masuk ke dalam ruang melalui pipa besi tadi. Setelah ruangan penuh asap, sabut yang terbakar diambil dan lubang kecil itu juga ditutup. Pemeraman demikian hanya berlangsung selama 24 jam. Setelah itu pisang diambil dan disisir untuk dipasarkan.

Agar dicapai tingkat kemasakan penuh (pisang siap untuk dikonsumsi), pemeraman dalam ruang berasap juga harus dilakukan selama 3 X 24 jam. Namun akibatnya pisang tidak bisa tahan lama didisplai di pasar swalayan atau kios buah di kawasan Puncak. Dengan lama pemeraman hanya 24 jam, maka warna pisang masih hijau kekuningan. Daging buahnya sendiri meskipun sudah mulai empuk, namun belum siap untuk dikonsumsi. Hari itu pisang disisir, besuknya didistribusikan dan hari berikutnya ketika didisplai, pisang sudah siap untuk dikonsumsi. Pisang dengan tingkat kemasakan demikian akan tahan didisplai sampai sekitar satu minggu.

Pemeraman dalam ruang berasap ini berkembang di sekitar Ciawi, Cibedug, Cijeruk dan sekitarnya, karena suhu harian rata-rata di kawasan ini memang cocok untuk memeram pisang yakni 22° C. Selain dengan asap, ada juga pemeram yang menggunakan gas karbit (yang biasa digunakan untuk mengelas). Kelebihan gas karbit adalah, mudah pengoperasiannya, masaknya pisang lebih merata, warna kuningnya lebih cerah. Meskipun pisang ambon kuning masih sangat muda, apabila diperam dengan gas karbit akan masak dengan warna kulit yang kuning cerah merata.

Kelemahan pemeraman dengan karbit adalah, daya tahan pisang lebih pendek dari yang diperam dengan asap. Selain itu, rasa pisang juga menjadi lebih hambar jika dibanding dengan yang diperam menggunakan asap. Pembeli yang jeli, akan dengan mudah membedakan, mana pisang yang diperam dengan karbit, dan mana yang dengan asap. Pembeli awam, biasanya akan memilih pisang yang diperam dengan karbit, karena penampilannya yang lebih menarik. Sementara konsumen yang sudah berpengalaman akan lebih memilih pisang hasil pemeraman dengan asap. Meskipun warna kulitnya agak kurang cerah, namun rasanya lebih manis daripada yang diperam dengan gas karbit.

Pola penyisiran agroindustri pisang modern, sebenarnya sama dengan yang dilakukan oleh petani tradisional, yakni dengan membuang seluruh tangkai tandan. Di unit pasca panen cavendish, alat penyisir itu berupa pisau yang bagian tajamnya melengkung dengan pola dan ukuran tangkai sisir pisang. Pisau itu diberi tangkai panjang. Hingga ketika ditusukkan ke pangkal sisir, maka sisiran itu akan lepas dan masuk ke dalam bak berisi air. Cara ini pulalah yang dilakukan para petani tradisional. Hingga seluruh tangkai tandan terbuang. Cara ini bisa sangat menghemat biaya angkut.

Pola demikian tidak diterapkan pada agroindustri pisang yang tanggung. Di kawasan Ciawi, pisang yang telah diperam berikut tangkai tandannya, segera disisir dengan cara memotong tangkai tandan secara melintang. Tujuannya adalah, agar daya tahan pisang lebih tinggi selama didisplai. Sebab displai pisang rakyat di kios-kios buah ini dilakukan di ruang terbuka yang terkena panas matahari langsung. Kalau tangkai tandan dibuang, maka bekas potongan di pangkal sisir itu akan segera tampak cokelat atau menghitam. Kalau tangkai tandan masih dibiarkan melekat pada sisiran, maka setiap kali bekas potongan menjadi hitam, bisa diiris lagi hingga tampak kembali segar.

Selain itu, penyertaan tangkai tandan juga bertujuan agar volume sisiran itu tampak lebih besar. Pola penyisiran dengan mengikutsertakan tangkai tandan demikian, juga dilakukan oleh agroindustri pisang barangan. Pola penyisiran demikian sebenarnya merupakan pemborosan. Sebab sampah yang dibawa konsumen lebih banyak daripada kalau membeli pisang hanya berupa sisir tanpa mengikutsertakan tangkai tandan. Pola pemasaran pisang ambon kuning berupa satu pasang terdiri dari dua buah pisang, sebenarnya merupakan terobosan yang lebih rasional. Sebab seluruh tangkai tandan ditinggal di kebun atau lokasi pemeraman. Konsumen hanya cukup membawa pisang tanpa tangkai tandan. * * *    

Sumber : http://foragri.blogsome.com/pasca-panen-pisang-rakyat/

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar