........Selamat Hari Jadi Kab. Nunukan ke 13 tgl 12 Oktober 2012.......

Jumat, 25 Mei 2012

ANEKA KUE LOKAL NUSANTARA DARI PISANG

MAKANAN BERBAGAI OLAHAN BUAH PISANG

1. Pisang Bakar



2. Pisang Goreng
Tepung beras (rose brand), kapur sirih sejempol, garam secukupnya, kuning telur 1 buah, vanilla secukupnya. Semua diaduk diberi air, jangan terlalu encer, agak kental lebih baik. Lalu pisangnya dibuat bentuk kipas. Di goreng di minyak yang panas


3. Kolak Pisang

Bahan :
  • 1 kg pisang Agung yang sudang matang
  • 1 ons gula merah
  • 1 ons gula pasir/gula putih
  • 1 ons kolang-kaling, dibersihkan dan dibelah dua
  • 2 lembar daun pandan, dicuci bersih
  • 65 ml santan instan
  • 3 gelas air (720 ml), untuk kuah kolaknya

Cara memasaknya :
  1. Pisang Agung dipotong miring, besarnya sesuai selera, lalu sisihkan.
  2. Gula merah dicairkan dengan cara direbus menggunakan air secukupnya, lalu disaring.
  3. Rebus gula merah tadi dengan gula pasir/gula putih, aduk hingga tercampur.
  4. Masukkan air, pisang Agung, rebus hingga pisangnya berubah warna.
  5. Masukkan santan, daun pandan, kolang-kaling, lalu aduk.
  6. Masak hingga matang.
Tips :
Jika kamu suka dengan buah nangka, bisa ditambahkan ke dalam Kolak Pisang, dengan cara buah nangka dipotong kecil sebesar dadu.


4. Molen

Bahan
  • 6 buah pisang Agung
  • minyak untuk menggoreng

Kulit
  • 350 g tepung terigu
  • 50 g gula halus
  • 1/2 sdt vanili
  • 1/4 sdt garam
  • 125 g margarin
  • 75 ml air

Cara
  1. Belah pisang jadi dua lalu potong melintang sesuai selera. Sisihkan.
  2. Kulit:
    - Campur semua bahan kering menjadi satu. Aduk rata.
    - Tambahkan margarin, aduk-aduk dengan ujung jari hingga berbutir kecil-kecil.
    - Tuangi air sedikit-sedikit sambil aduk dengan sendok kayu hingga menjadi adonan yang kalis.
    - Gilas adonan hingga tipis hingga setebal 2,5 mm.
    - Potong-potong adonan selebar 3 cm sehingga menjadi bentuk pita panjang.
    - Lilitkan pada tiap potong pisang hingga pisang tertutup adonan.
    - Goreng dalam minyak panas dan banyak hingga kuning kecokelatan dan matang. Angkat dan tiriskan


5. Roti

6. Kripik



7. Sale
Proses pembuatan sale pisang adalah sebagai berikut:
Pisang yang telah tua dan matang dikupas kulitnya, dikerok sedikit bagian luarnya hingga bersih. Proses tersebut bertujuan untuk menghilangkan lapisan tanin yang terdapat pada permukaan pisang, sehingga sale yang dihasilkan berwarna cokelat mengkilap dan tidak sepat. Tanin yang tidak dihilangkan akan menghasilkan sale yang berwarna hitam. Untuk mendapatkan warna sale yang tidak terlalu cokelat, pisang dapat direndam dalam larutan natrium bisulfit (15 gram dalam satu liter air) selama 10 menit.

Pisang diletakkan di atas tampah, dimasukkan ke dalam lemari pengasapan.Pisang diasapkan dengan menggunakan asap kayu bakar atau asap belerang selama dua jam. Proses pengasapan dengan belerang bertujuan untuk memucatkan pisang, supaya diperoleh warna yang dikehendaki, mematikan mikroba (jamur dan bakteri), serta mencegah perubahan warna.

Pisang dijemur di atas rak yang beralaskan merang selama 5-7 hari. Proses pengeringan akan berpengaruh terhadap kadar air, nilai gizi, aktivitas enzimjasad renik, dan warna sale pisang. Pengeringan dapat dilakukan dengan sinar matahari atau menggunakan alat pengering buatan (oven). Sambil dijemur sewaktu-waktu pisang dipipihkan dengan kayu berbentuk silinder atau bambu sampai ketebalan yang dikehendaki.

Sale yang dihasilkan dapat langsung dikemas dengan daun pisang kering atau plastik polipropilen. Sale dapat juga digoreng terlebih dahulu untuk lebih memberikan kesan kering dan gurih.
sumber : http://www.mail-archive.com/dokter@itb.ac.id/msg09546.html

8. Nogosari & Utri

9. Limpang-limpung
Bahan yang diperlukan sama dengan pembuatan pisang goreng. Tapi pisangnya dipotong kecil-kecil, lebih kecil dari irisan kripik pisang. Rasanya lebih padat dibanding pisang goreng.


10. Gethuk
 


11. Lepat Pisang


12 Tepung Pisang
Tepung pisang dibuat dari buah pisang yang masih mentah. Semua jenis pisang dapat diolah menjadi tepung pisang. Cara membuatnya mudah dan sederhana. Tepung yang baik terbuat dari buah pisang yang cukup tua tetapi belum masak. Tepung pisang dari jenis pisang kepok warna tepungnya putih.
Berikut ini cara membuat tepung pisang.
Bahan:
-Pisang kepok
-Natrium metabisulfit (dapat dibeli di toko bahan kimia)
Peralatan:
-Pisau
-Perajang
-Alat pengering
-Alat penghancur/penggiling
-Ayakan/saringan
Fungsi masing-masing peralatan:
-Penggiling ukuran kecil untuk kapasitas satu kwintal atau lebih sesuai yang diinginkan. Penggilingan digunakan untuk menghancurkan potongan pisang menjadi tepung.
-Pisau digunakan untuk memotong pisang menjadi ukuran kecil-kecil sebelum dilarutkan kedalam bahan natrium metabisulfit
-Saringan/ayakan sebagai alat untuk menyaring/mengayak hasil tepung, guna mendapatkan tepung yang baik dan halus serta berkualitas.
-Plastik yang lebar dan bersih sebagai alat untuk menaruh tepung pisang ketika dijemur agar supaya kering untuk memudahkan dalam proses penggilingannya.
-Sinar matahari sangat diperlukan dalam proses pembuatan tepung pisang dalam proses pengeringan.
-Plastik kemasan untuk membungkus tepung pisang telah jadi.
-Plastik sealer, alat menutup kantong plastik.
 
Cara membuatnya:
-Pisang yang telah tua dikupas kulitnya, dipisahkan daging buahnya.
-Kemudian dipotong kecil-kecil berukuran kurang lebih 1cm x 0,5 cm dengan pisau atau alat pengiris.
-Kemudian pisang direndam dalam larutan natrium metabisulfit, setelah itu ditiriskan.
-Kemudian potongan pisang harus dikeringkan. Jika pengeringan dengan sinar matahari perlu waktu kurang lebih dua hari. Jika menggunakan alat pengering gabah (dengan suhu 60 derajat celsius) proses pengeringan lebih cepat. Untuk mengeringkan dua kwintal pisang segar hanya perlu waktu 1 jam 20 menit.
-Setelah kering atau kadar air kurang lebih 14 %, potongan pisang dapat digiling/dihancurkan dengan menggunakan hammer mill atau ditumbuk.
-Hasil penggilingan kemudian diayak.
-Tepung pisang yang lolos dari ayakan dikemas dalam kantong plastik.
(Sumber: Buletin Teknopro Hortikultura Edisi 72, Juli 2004, yang diterbitkan oleh Direktorat Pengolahan dan Pemasaran Hasil Hortikultura)
 
Sumber : http://zona-sosial.blogspot.com/2012/04/makanan-olahan-pisang-yang-sehat.html
 

Aneka Olahan Pisang untuk Nilai Tambah Pisang di Cianjur

Produk Olahan Tepung Pisang Untuk Meningkatkan Nilai Tambah

 

Pisang merupakan salah satu komoditas unggulan Indonesia. Usahatani pisang  mampu memberikan keuntungan yang cukup besar dalam waktu yang relatif singkat (1 – 2 tahun). Dari segi produksi, pisang memberikan kontribusi antara 40 – 45% terhadap produksi buah nasional maupun keragaman penggunaan seperti buah konsumsi segar, olahan, bahan baku industri dan pakan ternak serta keragaman varietas yaitu memiliki kekayaan kurang lebih 300 varietas dengan 14 varietas ekonomis. Kabupaten Cianjur merupakan salah satu wilayah sentra produksi pisang dengan total produksi pada tahun 2007 mencapai 1 981 234 kw, dengan total keseluruhan di Jawa Barat mencapai 14 536 645 kw. Pemanfaatan pisang pada saat ini adalah sebagian besar masih dalam bentuk segar dan dalam bentuk olahan berupa sale, dodol, puree, keripik dan lain-lain. 

Pengolahan pisang menjadi tepung agar mempunyai masa simpan lebih lama, lebih mudah dalam pengemasan dan pengangkutan, lebih praktis untuk diversifikasi produk olahan, mampu memberikan nilai tambah buah pisang, dan mampu menciptakan peluang usaha pengembangan agroindustri pedesaan. Pemanfaatan tepung pisang sebagai bahan subtitusi pembuatan roti tawar, makanan bayi, biskuit maupun snack sebagai upaya untuk menambah keanekaragamaan pengaplikasian dari tepung pisang, disamping itu produk tersebut cara pengolahannya mudah dan ekonomis.

Tujuan pengkajian adalah:  
(1) Meningkatkan nilai tambah buah pisang sebesar >15% melalui teknologi pengolahan tepung pisang dengan rendemen >25% ; 
(2) Mendapatkan formulasi produk turunan tepung pisang yaitu produk olahan makanan bayi, biskuit, snack dan bakery dengan menghemat penggunaan gula >20% dan 
(3) Menentukan umur simpan produk tepung pisang. Metodologi menggunakan pendekatan ”participatory on farm Research” dengan metode eksperimen dan deskriptif. Analisis data menggunakan analisis deskriptif dan anova. 

Hasil penelitian menunjukkan bahwa : 
1). Jenis pisang nangka dapat diolah menjadi tepung pisang dengan spesifikasi produk (kadar air 9,2%; kadar gula 3,81%; kadar karbohidrat 81,51%; kasar serat 1,79 dan kalori 345,14 kkal/100gram), nilai rendemen diatas 25% (27,48%) dengan nilai tambah tepung sebesar 236,33%; Pemanfaatan tepung pisang sebagai bahan baku pembuatan produk olahan makanan seperti roti, biskuit, cookies, snak, cake, makanan bayi dan kue lainnya. Dan dapat mensubstitusi terigu hingga 100% tergantung dari jenis olahannya. 

2). Penggunaan tepung pisang dengan substitusi hingga 40% menghasilkan makanan bayi (MP-ASI) dengan nilai kalori sebesar 385 kkal/100g, protein 9,94%, karbohidrat 67,41%, lemak 8,5% dan serta 0,5%. 

3) Tepung pisang dapat mensubstitusi pembuatan biskuit sebesar 42,5% dengan nilai energi sebesar 515,8%; kadar protein 7,70%, lemak 29,92% dan karbohidrat 53,93%. 

4) Formula snack memerlukan tambahan tepung pisang 25-70% dengan nilai energi 385,84-560,27 kkal/100g dan tepung pisang dapat mensubstitusi pada pembuatan roti sebesar 15%, dengan nilai energy berkisar antara 261,29 – 375,81% dan kadar protein 8,05-11,02%. 

 5) Tepung pisang dapat tahan disimpan selama 8,3 bulan dalam kemasan plastik PE pada kondisi suhu penyimpanan T = 30°C dan RH 75% dan apabila disimpan pada suhu dan RH lebih rendah akan lebih panjang lagi umur simpannya.

Sumber : http://lpmtechno.wordpress.com/2011/03/18/produk-olahan-tepung-pisang-untuk-meningkatkan-nilai-tambah/
 

KEBUN PISANG YANG MONOKULTUR DAN MONOVARIETAS ATAU CAMPURAN ?



KEBUN PISANG MULTI VARIETAS DAN MULTI KULTUR



Ketika tahun 1997 wabah pseudomonas dan fusarium melanda kebun pisang rakyat maupun perkebunan besar di Indonesia, tetap ada tanaman pisang yang selamat. Pertama, yang bisa selamat dari amukan penyakit tersebut adalah jenis pisang "bandel" seperti mas, muli, dan lilin. Tetapi pisang-pisang yang sangat rentan penyakit seperti kepok kuning, ambon kuning, raja sereh, raja bulu dan tanduk pun, tetap ada yang selamat. Pisang-pisang tersebut selalu berada di kebun atau pekarangan rumah penduduk dengan tanaman yang campuraduk. Berbagai jenis pisang ada di sana, berbagai jenis tanaman juga tegak di kebun itu. Mulai dari tanaman semusim seperti kunyit dan keladi sampai ke tenaman keras seperti bambu, petai dan kelapa. Tempat tumbuh tanaman pisang yang selamat dari amukan penyakit itu selalu sangat subur dan  kaya bahan organik. Pada musim kemarau panjang, kelembapan udara serta tanah juga masih tetap terjada dengan baik.

Sebaliknya, areal perkebunan pisang yang hancur oleh penyakit adalah tanaman monokultur, bahkan mono varietas. Artinya, kebun pisang dengan satuan hamparan luas itu hanya ditanami pisang dan hanya terdiri dari satu jenis. Contoh paling ekstrim adalah kebun pisang cavendish. Meskipun kebun ini sudah dilengkapi dengan parit drainase selebar 1 m. dengan kedalaman 1,5 m, diberi pengairan dengan teknik sprinkle, diberi pupuk dan rutun disemprot pestisida, namun tetap saja habis terkena penyakit. Kebun PT Nusantara Tropical Fruits seluas 2.000 hektar di Lampung, tinggal ratusan hektar yang selamat. Kebun PT Global Agronusa Indonesia seluas 3.000 hektar di Halmahera, Maluku, malahan hancur total oleh penyakit ini. Tanaman pisang rakyat dengan jenis-jenis komersial seperti ambon kuning, barangan dll. juga hancur terkena penyakit tadi. Seorang mantan bupati di Sumsel yang mencoba mengembangkan pisang barangan monokultur juga mengalami nasib demikian.



Gagalnya pengembangan kebun-kebun cavendish di Indonesia, terutama disebabkan oleh lokasinya yang sangat berdekatan dengan katulistiwa. Filipina meskipun sama-sama negara tropis, letaknya sudah di atas 10° lintang utara. Lampung masih di bawah 5° dan Halmahera justru menempel di katulistiwa. Pengembangan cavendish di Jatim, tepatnya di Kab. Mojokerto, bisa lebih baik dari di Lampung, karena Mojokerto letaknya sekitar 7,5° lintang selatan. Pengembangan cavendish secara monokultur dan mono varietas di Australia dan Filipina relatif berhasil karena tingkat kelembapan udara di dua kawasan tadi sudah relatif rendah didanding dengan kelembapan rata-rata di Indonesia. Demikian pula halnya dengan Kostarika yang dikenal sebagai negeri pisang, letaknya persis pada 10° lintang utara. Ini semua membuat pengembangan pisang secara monokultur dan mono varietas menjadi dimungkinkan. Problematik mereka justru hanya masalah pengairan.

Selain jenis cavendish dan barangan, di Indonesia belum pernah ada kebun pisang komersial yang dikelola secara serius. Yang disebut sebagai pisang komersial adalah, 1) ambon kuning, 2) kepok kuning, 3) raja sereh (susu), 4) raja bulu, 5) tanduk, 6) mas. Selain jenis-jenis tersebut, masih ada pula pisang-pisang yang tetap laku dijual, tetapi nilai ekonomisnya tidak tinggi. Misalnya pisang nangka, kapas, muli, lilin (janten) dll. Disebut sebagai ambon kuning, sekadar untuk membedakannya dengan ambon lumut dan ambon putih.

Di beberapa tempat, misalnya di Bandung, ambon lumur justru sangat digemari konsumen. Tetapi pada umumnya, ambon kuning tetap lebih memiliki potensi pasar. Ambon putih sulit sekali dipasarkan. Demikian pula halnya dengan kepok putih yang hanya lazim dimanfaatkan sebagai pakan burung. Yang dimaksudkan dengan ambon putih serta kepok putih adalah, warna daging buahnya. Sementara warna kulitnya tetap kuning. Beda dengan ambon lumut yang warna kulit buahnya memang akan tetap hijau meskipun telah masak.

Raja bulu yang memiliki nilai komersial baik adalah raja bulu merah. Yakni raja bulu yang daging buahnya kuning oranye kemerah-merahan. Selain itu masih ada pula raja bulu dengan daging buah putih yang kurang disukai konsumen. Raja sereh atau pisang susu malahan ada 3 macam. Pertama yang berukuran besar, tetapi rasanya sedikit masam. Kedua yang berukuran lebih kecil tetapi rasanya sangat manis dengan daging buah yang lebih kering (kesat). Dua jenis pisang raja sereh ini kulit buahnya akan berwarna kuning kecokelatan dengan bintik-bintik cokelat tua. Bintik-bintik pada pisang raja sereh ini bukannya disebabkan oleh luka tusukan hama trips, melainkan oleh bintik gula (sugar spot). Hingga masyarakat yang selalu mengatakan bahwa raja sereh yang manis adalah yang kulitnya cokelat kehitaman memang benar. Karena masih ada satu lagi jenis raja sereh yang warna kulit buahnya justru kuning muda mulus namun rasanya sangat sepat serta masam. Pisang tanduk pun ada dua macam. Pertama yang berdaging muah kemerahan. Di Kab. Lumajang, Jatim, pisang demikian disebut sebagai pisang agung. Selain itu masih ada lagi pisang tanduk dengan daging buah putih.

Alam, tampaknya memang telah mengatur bahwa pisang-pisang yang enak dengan kualitas baik tadi justru sangat rentan terhadap serangan hama serta penyakit. Pisang-pisang jelek yang nilai komersialnya rendah justru sangat tahan penyakit. Pisang mas, lilin dan muli misalnya, sama sekali tidak mempan terserang fusarium dan pseudomonas. Dari enam pisang komersial tadi, ada yang umurnya genjah, yakni 6 bulan dari sejak tanam (benih anakan tinggi 1m.); sudah akan berbuah.

Pisang raja sereh sekitar 7 sampai 8 bulan. Ambon dan raja bulu antara 8 bulan sampai dengan 10 bulan. Kepok kuning dan tanduk perlu waktu sampai 18 bilan (1,5 tahun) untuk berbuah. Harga paling tinggi adalah tanduk yakni sampai Rp 1.800,- per kg. di tingkat petani. Disusul dengan raja bulu  Rp 1.500,- kg. kemudian ambon kuning Rp 1.200,- per kg. raja sereh / kepok kuning  Rp 1.000,- per kg. dan mas Rp 800,- per kg. Meskipun tanduk dan raja bulu menduduki ranking harga tertinggi, namun pangsa pasarnya sangat kecil. Sebab pisang tanduk termasuk jenis olahan (bukan pisang meja) sementara raja bulu jenis dwi guna. Yang memiliki pangsa pasar terbesar tetap pisang mabon kuning, karena penggunaannya untuk pisang meja. 

Itu semua untuk pasar dalam negeri. Untuk pasar ekspor lain lagi. Ambon kuning tidak mungkin diekspor karena dua alasan. Pertama, masrarakat internasional akan menganggapnya sebagai cavendish. Kedua, beda dengan cavendish yang tangkai buah serta kulitnya kuat, ambon kuning sangat lemah. Yang memiliki tangkai buah serta kulit kuat hanyalah raja bulu dan kepok kuning. Karenanya, kalau pengembangan kebun pisang komersial berorientasi pasar dalam negeri, maka konsentrasinya harus ke ambon kuning. kalau tujuannya untuk ekspor, maka jenisnya raja bulu dan kepok kuning. Hingga rumusan untuk kebun dengan orientasi pasar dalam negeri adalah, ambon kuning 50%, raja sereh 20%, raja bulu 10% tanduk, kepok kuning dan mas 20%. Kalau tujuannya untuk ekspor maka komposisinya raja bulu 40%, kepok kuning 30%, tanduk 10% dan ambon kuning, mas serta raja sereh 20%. Komposisi itu bisa digabung. Misalnya, ambon kuning 30%, raja bulu 30%, kepok kuning, tanduk, raja sereh dan mas masing-masing 10%. Orientasinya pasar dalam negeri dan ekspor.

Populasi ideal tanaman pisang ambon kuning atau raja bulu per hektar adalah 1.500 tanaman. Dengan jarak tanam 2 X 3 meter. Namun dalam pelaksanaan penanaman jarak tanam itu dibuat 2 m. (membujur) X 3,5 X 2,5 X 3,5 m. dst. (melintang).  Pada jarak 2,5 m. dibuat parit drainase selebar 0,5 m. dengan kedalaman 0,7 m. Sementara jarak 3,5 m. akan digunakan untuk kendaraan (pick up) atau traktor yang akan membawa pupuk kandang serta hasil panen. Jarak tanam yang 2 m. tersebut, dalam budidaya sistem multi varietas harus domodifikasi sesuai dengan verietas yang ditanam.

Misalnya, pada ambon dan raja bulu, jarak itu tetap 2 m. Tetapi pada  kepok kuning dan tanduk,  diperlebar menjadi  2,5 m. Pada raja sereh dan mas, justru diperpendek menjadi 1,5 meter. Populasi total per hektar tetap sekitar 1.500 tanaman. Di kalangan petani, biaya tanam pisang ambon kuning atau raja bulu, Rp 5.000,- per tanaman sampai dengan berbuah pertama. Pera petani tidak pernah memberi pupuk maupun pestisida, tenaga kerja untuk kontrol juga tidak dihitung. Jadi Rp 5.000,- tersebut hanyalah biaya benih, tanam dan panen.

Pada budidaya komersial, biaya tersebut harus ditambah Rp 5.000,- untuk pupuk dan pestisida pada tahun I. Pada tahun II dst, biaya pupuk dan pestisida akan meningkat menjadi 3 X lipat, karena tiap rumpun pisang akan bisa dipanen sebanyak 3 kali. Kemudian masih ada biaya Rp 6.000,- untuk upah tenaga harian. Perhitungan upah harian adalah, tiap hektar bisa dikerjakan oleh 2 orang dengan UMR Rp 12.000,- berarti tiap 0,5 lahan akan ditangani oleh 1 tenaga kerja dengan upah per tahun Rp 12.000,- X 365 (hari) : 750 (populasi pisang per 0,5 hektar) = Rp 5.840,- yang dibulatkan menjadi Rp 6.000,-

Dalam perkebunan pisang skala komersial diperlukan pengairan intensif. Pengadaan air dengan biaya tertinggi adalah apabila harus mengambil air tanah dengan sumur dalam. Biaya pengeboran berikut pompa, survei, ijin, instalasi dan penampungan sekitar Rp 200.000.000,- yang bisa mengkover areal 10 hektar. Biaya investasi ini harus disusutkan paling sedikit untuk jangka waktu 5 tahun. Plus biaya investasi lainnya berikut benab manajemen, total biaya pembukaan kebun pisang skala komersial menjadi Rp 50.000.000,- per hektar.

Biaya per hektar Rp 50.000.000,- tersebut untuk skala minimal 10 hektar. Kalau kebun yang akan dibuka hanya 5 hektar atau malahan hanya 2 hektar, maka biaya per hektarnya akan jatuh lebih tinggi lagi. Sebaliknya apabila kita akan membuka sampai 50 hektar, maka biayanya akan menurun, meskipun angka nominal penurunannya tidak terlalu besar. Hasil pisang 1.500 tandan, dihitung rata-rata 6 sisir per tandan dengan berat per sisir 2,5 kg dan dengan harga rata-rata  Rp 1.200,- Hingga pendapatan per tanaman adalah Rp Rp 1.200,- X 2.5 X = Rp 18.000,- Hasil per hektarnya dikalikan 1.500,- menjadi Rp 36.000.000,-

Pada tahun II dst. hasil ini akan meningkat menjadi 3 X lipat yakni Rp 108.000.000,- tetapi biaya pupuk dan pestisida juga akan naik menjadi Rp 15.000,- X 1.500 per hektar atau Rp 22.500.000,- Secara ringkas, dengan skala minimal 10 hektar, dengan biaya Rp 500.000.000,- suku bunga 20% dan grace period 1 tahun, maka dalam waktu 4 tahun pinjaman untuk budidaya pisang ini sudah bisa dilunasi. Jadi sebenarnya peluang tersebut masih cukup baik. (R) ***

Sumber : http://foragri.blogsome.com/kebun-pisang-multi-varietas-dan-multi-kultur/

Selasa, 22 Mei 2012

Pisang, penghasil zat TNF penangkal sel jahat

Pisang, penghasil zat TNF penangkal sel jahat

Mungkin di masa yang akan datang Anda akan tersadar, akan terjadi kekurangan stok pisang di pasaran!

Pisang yang semakin matang pada permukaan kulitnya akan semakin banyak bercak-bercak (bintik-bintik) hitam. Ternyata ini akan melindungi kita dari penyakit. Orang Jepang suka makan pisang bukan tidak ada alasannya, dewasa maupun anak-anak suka makan pisang. Sangat gampang, 5 buah setiap hari, penyakit akan menjauh. Berdasarkan hasil penelitian ilmiah para ilmuwan Jepang, ditemukan bahwa dalam pisang terdapat zat TNF yang berfungsi menangkal sel jahat. Selain itu, semakin matang pisang semakin tinggi pula khasiatnya untuk menangkal sel jahat.

Profesor Senji dari Universitas Tokyo Jepang mengadakan penelitian menggunakan hewan, membandingkan hasilnya dengan memberi makan pisang, anggur, apel, semangka, nangka, pear dan berbagai macam buah-buahan untuk mengujinya. Hasilnya membuktikan di antara buah-buahan tersebut pisang lah yang terbaik khasiatnya. Pisang bisa menambah sel darah putih, dapat mengganti sel-sel yang rusak, selain itu juga menghasilkan zat TNF yang menangkal sel-sel jahat. Penelitian dan pengujian sang profesor juga menemukan, kulit luar pisang yang semakin makin matang akan timbul bercak-bercak (bintik-bintik) hitam, dapat memperpanjang umur hidup.

Oleh sebab itu, mulai saat ini ayo kita sering makan pisang yang lebih matang!

Pisang tidak akan mengakibatkan sel darah putih tiba-tiba bertambah banyak dalam sekejap tapi pada saat sel darah putih berkurang otomatis bertambah sendiri. Maka, para peneliti beranggapan, pisang bisa melindungi kita dari penyakit sehingga memperpanjang umur dengan memberikan daya tahan tubuh yang tinggi. Demikian juga bagi orang sakit, orang tua dan orang yang daya tahan tubuhnya kurang, akan lebih baik makan pisang kuning untuk kesehatan tubuh.

Maka, setiap hari, lebih baik kita makan pisang matang 1-2 buah per hari, demi meningkatkan daya tahan tubuh terhadap penyakit, terlebih lagi mencegah penularan wabah flu yang berjangkit saat ini (burung, babi). Petunjuk sang profesor Senji, kulit pisang yang menguning itu timbul bercak (bintik) hitam, kemampuan menambah sel darah putih lebih baik, 8 kali lipat daripada pisang berkulit masih hijau.

Semoga artikel ini bermanfaat.

Sumber : http://informasi-budidaya.blogspot.com/2009/06/pisang-penghasil-zat-tnf-penangkal-sel.html

Sabtu, 19 Mei 2012

Agribisnis Pisang Barangan Khas Soppeng

Agribisnis Pisang Barangan Khas Soppeng

 

Sumber Gambar: Adi dok. BP3KP
A. PENDAHULUAN
 
Pisang Barangan (Musa paradisiaca. L) merupakan salah satu jenis buah-buahan yang paling banyak digemari dan dikomsumsi oleh masyarakat Kab. Soppeng, terutama karena rasanya enak, kandungan gizinya tinggi, mudah didapat dan harganya murah.

Tanaman pisang merupakan tanaman dengan daya adaptasi yang luas dan dapat ditanam didataran rendah sampai dataran menengah, di daerah beriklim basah dengan tanah yang banyak mengandung bahan organic.

Peluang pasar buah pisang masih cukup besar untuk pasar dalam negeri dan pasar luar negeri. Potensi pasar dalam negri untuk pisang akan meningkat terus pada masa mendatang.

B. KANDUNGAN GIZI PISANG
Pisang Barangan (Musa paradisiaca. L) merupakan buah yang banyak mengandung gizi. Dalam sebuah pisang berukuran sedang mengandung :
- Protein : 90 kalori
- Karbohidrat : 0,9 gram
- Vitamin A : 720 cc
- Vitamin C : 7,5 mg
 
C. PEMANFAATAN PISANG
Hampir seluruh bagian pisang dapat dimanfaatkan untuk memenuhi berbagai kebutuhan manusia antara lain :
- Buah
Dikomsumsi dalam bentuk buah segar dan makanan olahan seperti Kolak, Pallu Butung, pisang goreng, kripik pisang, dll.
- Daun
Dijadikan pembungkus berbagai berbagai makanan.
- Batang
Digunakan untuk makanan ternak, bahan pupuk organic dll.
- Bonggol
Dijadikan bahan makanan berupa kripik bonggol pisang dll.
 
D. PROSPEK PASAR KOMODITAS PISANG
- Komsumsi pisang meningkat dari tahun ke tahun sekitar 5,96 %.
- Komsumsi pisang per kapita/tahun mencapai 16 kg.
- Permintaan pisang Indonesia dari luar negeri terus meningkat terutama dari Arab Saudi.
- Harga pisang dalam negeri terutama pisang ambon terus meningkat dari harga Rp. 500,-/kg hingga 1.800,-/kg
- Harga pisang segar Indonesia diluar negeri terus meningkat mulai US $ 1.100 sampai US 1.800/ton.
- Khusus untuk pisang barangan perminntaannya cukup tinggi untuk komsumsi dalam negeri.
- Pisang barangan merupakan pisang yang mempunyai rasa yang khas terutama dari Kecamatan Marioriwawo.

E. ANALISA KELAYAKAN KOMODITAS PISANG
 
- Biaya produksi
Biaya produksi yang diperlukan untuk agribisnis pisang terdiri dari :
 Biaya investasi Rp. 1.120.000,-
 
 Biaya operasional
(Termasuk biaya pembelian
Bibit/benih, pupuk, pestisida,
Dan biaya tenaga kerja untuk
Panen dan penanganan
Pasca panen sebesar Rp. 7.140.000,-
 Jadi jumlah biaya agribisnis
Pisang selama 4 tahun Rp. 8.260.000,-
 
- Pendapatan Petani
Tanaman pisang mulai berproduksi pada umur 12 bulan sebanyak 750 tandan/Ha dengan berat rata-rata pertandan 30 kg. Panen kedua, ketiga dan keempat masing-masing 1.500 tandan/Ha dengan selang waktu panen 8 bulan. Setelah panen keempat, pisang harus dibongkar dengan asumsi produk layak jual hanya 25 % dari total produksi. Harga jual per tandan Rp. 5.500,- Penerimaan petani pisang yaitu Rp. 18.689.000,-
 
Pendapatan pengusaha agribisnis pisang mencapai Rp. 10.429.000,- selama 4 tahun atau pendapatan pengusaha pisang pertahun rata-rata Rp. 2. 607.250,-
 
F. PENUTUP
Pisang (Musa paradisiaca. L) jika diusahakan secara agribisnis dapat menunjang perekonomian masyarakat, karena secara prospek pasar cukup menjamin, baik pasar lokal maupun pasar dunia. Cuma perlu ada upaya penanganan pasca panen untuk mendapatkan pisang yang berkwalitas dan pasca panen untuk menjamin mutu sampai ke konsumen.

Sumber : Balai Penelitian Hortikultura, deptan.
Seri : Pertanian
Oplag : 50 exper
Nomor : 02/B/Ariyadin Arif, STP, dkk

Sumber : http://cybex.deptan.go.id/lokalita/agribisnis-pisang-barangan-khas-soppeng
 

PROFIL KOMODITI PISANG DI KABUPATEN PASIR KALIMANTAN TIMUR




PROFIL KOMODITI PISANG DI KABUPATEN PASIR KALIMANTAN TIMUR
 
I.       KONDISI SAAT INI
a.      IDENTITAS KOMODITI
      Pisang Kepok mempunyai rasa buah yang manis dengan aroma buah yang harum. Jumlah        sisir per tandan 8 - 12 sisir dengan jumlah buah per sisirnya 14 � 22 buah. Bentuk buah            bersegi dengan ujung tumpul dan kulit buah mentah berwarna hijau dan kulit buah   masak berwarna kuning. Berat buah pertandan 23,30 kg dengan rata-rata berat perbuah       139,05 g. Potensi hasil 25,5 kg/pohon dan memiliki sifat buah yang tahan dalam       pengangkutan. Selain itu pisang kepok memiliki kandungan gizi cukup tinggi (kalori    57,30 kal/100 gr, karbohidrat 12,07%, protein 2,05%, lemak 0,09%) dan cukup digemari       masyarakat karena mempunyai nilai ekonomi tinggi.
Tanaman pisang di kabupaten Pasir sebagian besar jenisnya kepok, dengan penyebaran di        enam kecamatan utama seperti Tabel 1.
Tabel 1. Sebaran Tanaman Pisang
No
Kecamatan
Desa
Varietas Utama
Produktivitas perpohon (Kg/phn)
1
Tanah Grogot
1. Sugai Tuak
2. Rt. Panjang
3. Tanah Periuk
Kepok
Kepok
Kepok
12
12
12
2
Ps. Belengkon
1. Bekoso
2. Ps.Belengkong
3. Suatang
Kepok
Kepok
Kepok
12
12
12
3
Tanjung Aru
1. Kerang
2. Tampakan
3. Lomu
Kepok
Kepok
Kepok
12
12
12
4
Batu Sopang
1. Bt.Sopang
2. Kasungai
Kepok
Kepok
12
12
5
Long Ikis
1. Kayungosari
2. Belimbing
Kepok
Kepok
12
12
6
Long Kali
1. Long Kali
2. Sebakung
3. Mendik
Kepok
Kepok
Kepok
12
12
12
 
b.      SEBARAN PRODUKSI
Sentra pisang di kabupaten Pasir tersebar di lima kecamatan antara lain Tanah Grogot, Ps Belengkon, Tanjung Aru, Batu Sopang, Long Ikis dan Long Kali (Tabel 2).
Tabel 2. Tabel Luas Tanam dan Produktivitas di Kabipaten Pasir
Kecamatan
Desa
Luas Tanam (Ha)
Produktivitas (Ton/Ha)
Tanah Grogot
1. Sugai Tuak
2. Rt. Panjang
3.  Tanah Periuk
50
40
30
9,9
9,9
9,9
Ps. Belengkon
1.  Bekoso
2.  Ps.Belengkong
3.  Suatang
105
75
180
9,9
9,9
9,9
Tanjung Aru
1.  Kerang
2.  Tampakan
3.  Lomu
75
80
75
9,9
9,9
9,9
Batu Sopang
1.  Bt.Sopang
2.  Kasungai
80
40
9,9
9,9
Long Ikis
1.  Kayungosari
2.  Belimbing
70
150
9,9
9,9
Long Kali
1.  Long Kali
2.  Sebakung
3.  Mendik
200
150
70
9,9
9,9
9,9
 

II.    PELUANG INVESTASI
a.      POTENSI PENGEMBANGAN
Sebagai komoditas unggulan, pisang di Kabupaten Pasir masih memiliki areal potensi pengembangan yang cukup besar. Sesuai informasi terakhir yang diterima dari daerah terdapat potensi pengembangan seluas 350 Ha.
b.      KONDISI LAHAN DAN AGROKLIMAT
Kabupaten Pasir, Kalimantan Timur mempunyai lahan pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura yang terdiri dari lahan kering dan rawa. Sebagian besar lahan pertanian memiliki jenis tanah Podsolik dengan perlakuan perawatan yang baik sehingga potensial untuk dikembangkan berbagai jenis tanaman hortikultura. Dengan kondisi alam yang memiliki curah hujan yang merata hampir disepanjang tahun serta intensitas penyinaran matahari yang cukup tinggi sehingga menunjang pertumbuhan komoditas hortikultura dapat lebih baik.
Tabel 3. Profil Lahan Pisang Kabupaten Pasir
No
Kecamatan
Jenis Tanah
PH Tanah
Topografi
1
Tanah Grogot
Podsolik merah kuning
5,5 � 6
2 � 15%
2
Pasir Balengkong
Podsolik merah kuning
5,5 � 6
2 � 15%
3
Tanjung Aru
Podsolik merah kuning
5 � 5,5
0 � 2%
4
Baru Sopang
Aluvial
6 � 6,5
> 40%
5
Long Ikis
Podsolik merah kuning
6 � 6,5
> 40%
6
Long Kali
Podsolik merah kuning
6 � 6,5
0 � 2%
 
Tabel 4. Agroklimat Wilayah Kabupaten Pasir
No
Kecamatan
Tinggi tempat (m dpl)
Suhu
Rata-rata (0C)
Curah Hujan Rata-rata (mm/thn)
Jml Bln Basah (bln)
Jml Bln Kering (bln)
1
Tanah Grogot
0 � 7
25
200-250
8
4
2
Ps. Belengkon
0 � 7
25
200-250
8
4
3
Tanjung Aru
0 � 7
25
200-250
8
4
4
Batu Sopang
25-100
25
250-300
8
4
5
Long Ikis
7 � 25
25
200-250
8
4
6
Long Kali
7 � 25
25
200-200
8
4
 
c.       DUKUNGAN SARANA PRASARANA
      Dukungan sarana dan prasarana yang ada di sentra produksi pisang kabupaten Pasir adalah transportasi. Jalan usaha tani mencapai kebun petani baik dan lancar, sehingga dapat memudahkan transportasi dari kebun ke tempat lain (pengumpul, pasar, dll). Disamping itu waktu yang diperlukan untuk pengangkutan pisang dapat lebih efisien sehingga menekan kerusakan buah selama transportasi.

d.      PEMASARAN

Produksi pisang di kabupaten Pasir sebagian besar di jual di pedagang pengumpul (70%) yang biasanya datang langsung ke petani dan sebagian kecil (30%) dijual ke pasar lokal.
Sedangkan harga pisang di tingkat pedagang pengumpul desa Rp. 1.000/sisir atau Rp.8.000/tandan, ditingkat pedagang pengumpul kecamatan Rp1.200/sisir atau Rp.9.600/tandan dan ditingkat pedagang tingkat provinsi Rp. 1.500/sisir � Rp.12.000/tandan.

III. PERMASALAHAN
a.       Teknologi Produksi
Beberapa faktor yang menjadikan teknologi produksi menjadi kendala utama pada proses produksi pisang adalah :
-          Ketersediaan benih sehat (bebas dari penyakit terutama penyakit layu fusarium) sangat terbatas. Hal ini dikarenakan hampir seluruh wilayah Indonesia telah terkena serangan layu fusarium sehingga penyediaan bibit (anakan dan bonggol) mengalami kesulitan menemukan pohon induk.
-          Petani belum memahami sepenuhnya teknologi produksi pisang yang baik dan benar, sehingga sering kali ketidak pahaman ini menjadikan mereka kurang optimal melaksanakan pemeliharaan kebun.
-          Produksi dari masing-masing sentra produksi atau jenis / varietas belum terpetakan.
-          Serangan penyakit layu fusarium yang cukup mematikan belum dapat dikendalikan dengan baik, walaupun penggunaan agens hayati telah mulai tersosialisasikan.
Disamping permasalahan teknis tersebut diatas, masih ada kendala lain permasalahan pisang di kabupaten Pasir yaitu sistem pemasaran yang ada saat ini belum berpihak kepada petani. Hal ini disebabkan oleh faktor-faktor sebagai berikut :
-          Pola pemasaran yang ada sekarang tidak menghargai produk bermutu dan selalu menerapkan harga borongan.
-          Penetapan harga cenderung dilakukan oleh pedagang pengumpul.
-          Fungsi kelompok tani belum optimal.
-          Sebagian besar sentra produksi belum memiliki Sub Terminal Agribisnis (STA).
 
b.      Mutu Produksi
Beberapa faktor yang menyebabkan mutu produksi belum optimal antara lain adalah :
-          Belum dilaksanakannya praktek budidaya yang baik menyebabkan pertanaman tidak memperoleh perlakuan sebagaimana mestinya. Petani kurang melaksanakan perawatan (pembersihan daun-daun kering, pengairan, pemupukan, pembrongsongan  atau pengendalian OPT).
-          Waktu pemetikan tidak tepat.
            Kondisi ini biasanya diakibatkan oleh adanya desakan kebutuhan keuangan oleh    petani sehingga buah sering diijonkan atau dipetik muda.
-          Sortasi dan grading belum diterapkan sehingga petani tidak dapat memilah-milah buah atau sisir yang baik dan menjualnya secara campuran.
-          Penanganan pascapanen (pengemasan), pemeraman dan transportasi belum dilakukan dengan baik sehingga produk hasil panen banyak mengalami kerusakan sebelum sampai ditempat pemasaran.
-          Standar mutu belum tersosialisasikan, mengakibatkan petani kurang memahami/menyadari standar/keinginan dari konsumen terhadap produk yang mereka hasilkan.
-          Standar Prosedur Operasi (SPO) belum tersosialisasi.
 
IV. ANALISA USAHA TANI
Dari analisa usaha tani tanaman pisang di kabupaten Pasir dalam 1 Ha keuntungan yang didapat pada tahun I sebesar Rp 826.500/Ha, pada tahun II Rp 5.768.500 dan tahun III sebesar Rp 7.428.500
         Tabel Analisa Usaha Tani Pisang Kepok
No
Uraian
Biaya Tahun Ke
I
II
III
A
Biaya Tetap

 
 
1
Sewa Tanah
Rp. -
Rp. -
Rp. -
2
Garpu (buah x harga)
Rp. -
Rp. -
Rp. -
3
Sparyer
Rp.  300.000
Rp. -
Rp. -
4
Cangkul
Rp.    25.000
Rp. -
Rp. -
5
Golok (buah x harga)
Rp.    20.000
Rp. -
Rp. -
6
Pompa air (sewa)
Rp. -
Rp. -
Rp. -
7
Pajak tanah
Rp.    10.000
Rp.   10.000
Rp.  10.000
8
Bunga Kredit Bank/thn
Rp. -
Rp. -
Rp. -
9
Bibit perpohon (@ x harga) Rp.1.500 x 830 phn
Rp. 1.245.000
Rp. -
Rp. -
10
Lain-lain
Rp. -
Rp. -
Rp. -
 
Jumlah
Rp. 1.600.000
Rp.   10.000
Rp.   10.000
 
 



B
Biaya Tidak Tetap



1
Pupuk Kandang (Rp.200/kg)
Rp.    830.000
Rp. -
Rp. -
2
Pupuk Anorganik
Rp. -
Rp. -
Rp. -
 
- Urea (Rp.1.500/kg)
Rp.    622.500
Rp.   622.500
Rp.   622.500
 
- SP 36 (rp.2.400/kg)
Rp.    996.000
Rp.   996.000
Rp.   996.000
 
- KCL (Rp..../kg)
Rp. -
Rp. -
Rp. -
 
- NPK (Rp..../kg)
Rp. -
Rp. -
Rp. -
3
Pestisida
Rp.      75.000
Rp.     75.000
Rp.     75.000
4
Lain-lain
Rp. -
Rp. -
Rp. -
 
Jumlah
Rp. 1.776.500
Rp.1.691.500
Rp.1.691.500
 
 
 
 
 
C
Biaya Tenaga Kerja



1
Pengolahan Tanah + Lubang Rp.1.000/lubang
Rp.    830.000
Rp. -
Rp. -
2
Menanam Rp.1.000/lubang
Rp.    830.000
Rp. -
Rp. -
3
Pemeliharaan
Rp.    415.000
Rp.   415.000
Rp.   415.000
4
Panen + Pascapanen
Rp.    415.000
Rp.   415.000
Rp.   415.000
5
Lain-lain
Rp. -
Rp. -
Rp. -
 
Jumlah
Rp. 2.490.000
Rp.   830.000
Rp.   430.000
 
 



 
Total Biaya Produksi
Rp. 5.886.500
Rp. 2.531.500
Rp.2.531.500
 
Penerimaan (Rp.1000/kg)
Rp. 5.040.000
Rp. 8.300.000
Rp.9.960.000
 
Keuntungan
Rp.    826.500
Rp. 5.768.500
Rp.7.428.500
 
Catatan : Tahun pertama panen  70%  =     630 rumpun
                      Tahun ke dua panen  100%  =     830 rumpun
                      Tahun ke tiga panen  150%  =  1.245 rumpun 

Sumber : http://www.deptan.go.id/pesantren/ditbuah/Komoditas/Sentra/profil_pisang_di_kabupaten_pasir.htm